Ending

Jogja

When you find a flaw, you have to stand it, because the world is full of flaw. I read this somewhere dan sekarang aku mencoba untuk menjalankannya.

Mungkin Rafa memang bukan suami sempurna, tapi toh dia mau berusaha memperbaiki semuanya. Dan aku sebagai istri yang juga gak sempurna harus mau memberinya kesempatan kedua. Sometimes we need a second chance, simply because maybe we’re not ready at the first chance. Semoga dia gak menyia-nyiakannya.

So here I am, di dalam sebuah pesawat yang masih menunggu penumpangnya naik satu persatu di bandara Adi Sutjipto.

Aku gak pernah suka bandara. Menurutku, tempat ini adalah tempat dimana orang-orang berpisah dan menangis. Tapi pandanganku berubah hari ini. Bandara bisa jadi tempat dimana orang akan menuju ke “rumah” mereka, menuju ke sumber kebahagiaan mereka.

Setelah sekian lama, hari ini aku merasakan kembali deg-degan penuh rasa excited seperti orang baru jatuh cinta. And I enjoy it so much! Aku siap pulang, menemui suamiku tercinta, dan memulai semuanya dari awal.

Aku hendak mematikan blackberryku saat aku melihat ada dua miss called yang aku gak dengar.

Yoga.

Ah, aku sampai lupa ada manusia bernama Yoga. Dia pasti ingin tahu kondisiku setelah kejadian kemarin.

Haruskah aku menghubunginya kembali? Mungkin tidak. Tapi bagaimana kalau dia menghubungiku saat aku sudah bersama dengan Rafa? Ini pasti akan merusak keadaan.

Lebih baik aku kirim SMS saja, mengakhiri semuanya.

“Yoga, thank you for everything. Aku kembali ke jakarta hari ini. Ke suami. My “home”. Hope you’ll find yours soon. Take care.”

Sent.

Belum sempat aku mematikan HP, sudah ada SMS balasan dari Yoga. Cepat sekali!

Aku gak mau baca. Aku gak mau tahu isinya. Bukankah aku sudah mengakhiri semuanya. Aku harus menghindari segala kemungkinan yang bisa mengubah pikiranku.

Delete.

Inilah akhir dari cerita kita, Yog. I’m so sorry. You’ll find another woman. Better than me, hopefully.

Ada sedikit kesedihan melalukan ini semua, but you can’t have everything, right?

Sudahlah, aku sedang menuju kebahagiaanku. Mari kita buang semua hal menyedihkan.

It’s all about new beginnings now, I want to put everything behind us, and make things right, Raf.

Oh, I miss you so much, love.

Aku segera mematikan HPku. Menyandarkan kepalaku di kursi pesawat. Dan memandang ke luar jendela. Good bye, Jogja.

***

Jakarta

Waiting is such a waste of time. And I hate it. So much.

Sudah hampir dua jam aku bengong sendirian di sebuah kursi terminal 2 bandara soekarno hatta. Berkali-kali aku menghubungi HP Rafa, tapi gak ada jawaban. Entah sudah berapa banyak supir taksi ya menawarkan taksinya. Mulai dari bertanya baik-baik, sampai mereka mulai menggodaku dengan kurang ajar.

Kemana sih Rafa?

Dia bilang dia mau mengubah semuanya? Bagaimana aku bisa percaya kalau menepati janji untuk menjemputku saja dia gak bisa?

Apalagi alasan yang akan dia berikan sekarang? Meeting dadakan? Macet? Basi! Aku memang gak pernah jadi prioritas utamanya!

Mungkin aku yang terlalu cepat percaya. Harusnya aku tetap memegang statement: men won’t change! Tiba-tiba saja aku merasa menjadi orang yang teramat sangat bodoh.

Apa yang harus aku lakukan sekarang? Pulang sendiri ke apartemen dan membiarkan dia minta maaf lagi nanti?

No. It won’t happen.

Argh, aku pikir semua kebimbanganku sudah selesai. Tapi kenapa kamu membuat seperti ini lagi, Raf? Mau kamu apa?

You always get the best of me, Raf. And after everything you’ve done to me, I’m still coming back. Huff, stupid me. I should have known that you’d break my heart again.

Sudahlah, mungkin tempatku memang di Jogja. Lebih baik aku kembali ke Jogja sekarang dan mengurus perpisahanku dengan Rafa dari dari sana.

Setetes air mata membasahi pipiku. Aku janji, this is my last tear for you, Raf. And after this l’ll be incredibly happy without you.

Tapi..

Bisakah?

For me, the idea of happiness is you, Raf. Bagaimana aku bisa bahagia tanpa kamu?

Baiklah. Let’s give him one last shot.

Aku mengambil HP ku. Sekali lagi aku mencoba menghubunginya. Kalau dia gak angkat juga, aku pulang sekarang. Titik.

“Hallo,” terdengar suara diseberang sana.

Akhirnya!! Tapi ini bukan suara Rafa.

“Ini siapa ya?” tanyaku.
“Boleh saya tahu ibu siapanya yang punya HP ini?”

Apa-apaan sih ini? Apa HP Rafa hilang?

“Saya istrinya”
“Istrinya Bapak Rafa?”
“Ya.”
“Saya Dimas dari rumah sakit healthy center.”

Rumah sakit? Perasaanku tiba-tiba gak enak.

“Bapak Rafa mengalami kecelakan bu”

Astaga! Jadi karena itu Rafa telat. Rasa bersalah langsung datang menyerangku. Aku sudah berpikiran buruk terhadap suamiku, gak percaya sama dia, bahkan sudah berniat benar-benar meninggalkannya. Ternyata dia kecelakaan!

“Bagaimana keadaan suami saya?” tanyaku panik.

Ada jeda sejenak dari seberang sana. This is the longest one second in my life. Hey, tell me!!

“Maaf, bu. Tidak tertolong bu.”

Apaaaaaaaaa?

-the end-

Dear readers,

Please please don’t hate me karena membuat ending seperti ini. Saya jangan ditimpukin batu ya! Hahaha. Anyway, thank you so much sudah baca the marriage rollercoaster. Hope you enjoy it! Kalau ada saran dan kritik, boleh langsung email saya ke: nurilla.ri [at] gmail [dot] com.

Hopefully setelah ini akan ada second novel blog saya, judulnya Dear Friend With Love. Cuplikannya ada disini. Semoga edisi pertamanya bisa terbit rabu, 21 desember. Dua minggu lagi ya.

Dear publisher,

Kalau ada yang berminat menerbitkan ini dalam bentuk cetak, boleh loh, boleh banget, oke ngarep banget malah! Hahaha.. bisa hubungi saya ke: nurilla.ri [at] gmail [dot] com.

Baiklah, see you at Dear Friend With Love ya! :)


Hope

The idea of getting separated is frustrating. It’s really hard when you still in love with your partner. It’s even harder when your partner still wants you badly.

Aku menarik Rafa yg sedang berlutut di hadapanku ini ke dalam pelukanku. A warm hug is always what I want whenever I cry. Mungkin itu jg yg diinginkan Rafa saat ini. You’ll get it now, Raf, meskipun kamu gak pernah kasih itu ke aku setiap kali aku menangis.

I’m sorry! I’m really really sorry! Aku gak pernah bermaksud menyakiti kamu, sayang,” Rafa berbisik di telingaku. Kedua tangannya masih memelukku erat.

I know, Raf. You have no intention to hurt me, but I cry anyway.

Aku membelai lembut punggung Rafa yg kini bergetar pelan tanpa memberi jawaban apapun atas semua kata-katanya. Semua hal yang mengganjal sudah aku luapkan. I’m done. Sekarang waktuku untuk diam dan melihat sejauh apa usaha Rafa untuk mempertahankan ini semua.

Rafa melepaskan pelukanku, “Please Audi, I can’t afford losing you!

Gosh! Those teary eyes! Seeing him crying really makes me feel like I’m an evil. I wonder why he didn’t feel the same whenever he saw me crying.

“Di, aku gak akan membela diri. Iya aku salah. Aku akan berubah. Tapi jangan tinggalin aku,” lanjutnya.
Aku menarik nafas panjang, “Man doesn’t change, Raf.”

Ini pengetahuan umum: Women think their man will change. Wrong! And men thing their woman won’t change. Wrong!

But I will. I’ll show you. Bagaimana aku bisa buktiin ke kamu aku berubah kalau kamu mau pisah sama aku?”
Aku menggenggam tangan Rafa, berharap ini membuatnya sedikit lebih tenang, “Kalaupun kita lanjutin pernikahan kita, everything will never be the same. Everything’s changed.
Some things don’t. My love. Your love. Semua masih sama kan?”

Aku benar-benar gak tahu harus ambil keputusan apa saat ini. I’m totally clueless. Please help me!

Tangan rafa mengarahkan kepalaku agar tepat menghadapnya, matanya lurus menatap mataku, “Look! Aku tahu kamu mungkin ragu, kamu mungkin takut, but it’s different now. I’m different. I’ll fix everything,” kata Rafa mencoba meyakinkanku.
Why don’t you just let me go, Raf? Toh selama ini kamu sibuk sendiri. Kamu gak butuh aku.”

Kenyataan Rafa justru mempertahanku sebetulnya membuatku semakin bingung dengan kondisi ini. Selama ini dia terlihat seperti tidak pernah mempedulikanku sama sekali, tapi kenapa dia masih menginginkan aku dalam hidupnya? Bukankah hidupnya akan lebih mudah kalau gak ada aku? At least dia jadi bisa bekerja sepuasnya sampai jam berapapun tanpa memikirkan istrinya yang menunggunya di rumah.

I need you. You just don’t know. Kamu pikir aku dapet kekuatan dari mana untuk kerja keras? You give me strength, Di. Aku gak bohong saat aku bilang aku kerja demi kamu. I wanna be a successful man for you. Supaya kamu bangga. Dan ya, supaya kita bisa punya banyak uang dan kamu bisa beli apapun yang kamu mau. Aku pikir itu bisa bikin kamu bahagia.” Rafa menundukkan kepalanya, “Maaf aku baru sadar kalau gak selamanya kebahagian bisa diukur dengan materi.”

Benarkah? Itukah alasannya bekerja begitu keras selama ini? Aku gak bisa menolak, some part of me is melted.

Rafa mengarahkan tanganku ke dadanya, “Di, my heart beats for you.

Hah? Tiba-tiba saja aku tertawa kencang. Baru kali ini Rafa mengeluarkan kata-kata gombal super norak seperti barusan. Sungguh merusak suasana kelabu ini.

“Udah deh, Raf, jangan ngegombal. Gak cocok tahu!” kataku masih sambil tertawa.
“Jangan ketawa, di. I know it sounds cheesy, but that’s the truth.

Bagaimana aku gak tertawa? It’s just too funny, Raf.

Melihat muka Rafa yang masih kencang dan serius, aku berusaha sekuat tenaga meredakan tawaku. But I guess sebuah senyuman kecil sekarang tersisa di wajahku.

“Di, kalau gak demi aku, please pertahankan semuanya demi anak kita. Kamu mau anak kita lahir dalam keadaan orang tuanya sudah pisah?”

Rafa benar. Bagaimana perkembangan jiwa anakku kalau dia lahir tanpa seorang ayah. Aku mungkin bisa jadi single parent, tapi semua akan beda kalau ada Rafa. Apalagi kalau benar anakku laki-laki, aku sama sekali gak tahu bagaimana cara membesarkan anak laki-laki.

Semakin banyak yang harus dipertimbangkan, semakin kusut juga pikiranku. Senyum di wajahku kembali pudar. Mulutku kembali kelu.

“Aku tahu kamu sudah terlanjur sakit hati. Aku minta maaf. I can’t live without you, tolong ngertiin aku,” wajah Rafa memelas seolah memintaku segera mengakhiri siksaan batinnya.

Hah? Memang aku kurang pengertian apa selama ini?

“Aku selalu ngertiin kamu selama ini. Mungkin sekarang giliran kamu ngertiin aku kalau aku tiba-tiba gak kuat hidup sama kamu,” kataku dengan sedikit emosi.
“Maaf,” wajah Rafa terlihat sangat amat menyesal. Entah karena kata-katanya barusan atau karena sikapnya selama ini kepadaku.
Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan diri, “Rafa, kamu sudah minta maaf berkali-kali. But honestly, sampai detik ini aku gak tahu harus gimana. Please give me some time. Gak ada gunanya kamu push aku sekarang. Cuma bikin aku makin bingung.”

Sepertinya memang butuh kata-kata yang straight forward agar rafa berhenti merengek-rengek. Di satu sisi ada kebahagiaan yang muncul karena tahu Rafa masih sangat menginginkan, tapi di sisi lain aku lelah setengah mati mendengar semua kata-katanya.

“Ya. Mungkin kamu butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri.” kata Rafa setelah membisu cukup lama. Dia berdiri dan memegang bahuku, “aku balik ke Jakarta sekarang. Take your time. Aku tunggu di Jakarta.”
Aku hanya menunduk, “aku ga bisa janji Raf.”
I know. Tapi kalau kamu memang masih cinta sama aku, aku mohon pertahankan pernikahan kita and give me one more chance. Aku janji aku akan bikin kamu bahagia. I will never fail you again.”

Sebuah senyuman tipis aku berikan kepadanya just to make him know I got his words.

Rafa mencium keningku dengan lembut,”I love you so much!

Sebuah air mata akhirnya menetes di pipiku saat melihat Rafa meninggalkan kamarku. Gak ada niat sedikitpun untuk mengantarnya pergi. This is like a test for me, aku ingin tahu apa aku kuat kalau dia benar-benar pergi dari hidupku.

And no, aku gak kuat.

Oksigen di kamarku rasanya seperti hilang bersamaan dengan perginya Rafa. Dadaku sesak. I can’t breathe.

Sometimes, without your permission, someone becomes your oxygen. Rafa is my oxygen. 

What should I do? What should I do? Aku membating tubuhku  ke tempat tidur. Merenung. Mempertimbangkan semuanya. Mengesampingkan hatiku jauh-jauh dan mencoba berpikir logis terus, terus, terus, sampai aku gak mampu lagi memaksakan otakku.

Maybe I have to give him a chance to fix everything. Bukankah manusia manapun berhak mendapatkan kesempatan kedua? Lagipula aku gak mau suatu hari nanti aku menyesal karena gak pernah mencoba memperbaiki ini semua.

Baiklah, bulat sudah keputusanku.

Aku mengambil blackberry-ku, menulis sebuah SMS untuk Rafa.

‘Aku pulang ke Jakarta besok pagi.’

Sent!

Gak sampai satu menit, sebuah SMS balasan masuk.

Let me know jam berapa. Aku jemput ya.’

Aku tersenyum membaca balasan dari Rafa. I know, he’s starting to be nice. Mungkin memang masih ada harapan untuk penikahanku ini. Semoga saja!

source gambar: gettyimages.com


Explosion

It’s funny that most of the time the person you love the most is also the person you hate the most. The person you wanna kiss is also the person you wanna kill. The person you cannot live without is also the person you wanna let go.

For me, that person is Rafa.

Jantungku berdebar lebih cepat saat melihat Rafa ada di depan pagar rumah orang tuaku beberapa menit lalu. Aku takut dia membuat keributan saat melihat Yoga mengantarku pulang. Tapi ternyata aku salah, dia hanya diam. Dia diam saat melihatku datang bersama Yoga. Dia diam saat Yoga berpamitan kepadanya. Dia diam saat memasuki rumah orang tuaku.

Sampai detik ini, dimana dia sudah duduk di sisi tempat tidurku, dia masih juga diam. Aku duduk disampingnya, gak tahu harus bicara apa. Matanya menatapku dingin seolah menunggu penjelasan dariku.

“Mau apa kamu kesini, Raf?” aku akhirnya buka suara duluan. I know, wrong sentense to start a conversation.
“Jemput kamu!” jawab Rafa tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
“Aku mau disini dulu.”
“Supaya bisa ketemu mantan pacar kamu lagi?” tatapan Rafa masih dingin.

Sial! Bukannya minta maaf malah menuduhku macam-macam!

Aku menggelengkan kepalaku, “Aku mau menenangkan diri, Raf.”

Rafa memejamkan matanya, diikutin dengan menghembuskan nafasnya sekuat tenaga. Jari-jarinya memijat pelipisnya kencang. Aku hanya memandanginya, memaksa diriku agar tetap tenang apapun reaksi Rafa nanti.

“Audi, kamu pulang sama aku besok. Tolong nurut sama suami kamu ya,” kata Rafa kemudian. Suaranya tegas dan bossy, as always.

Not this time, Raf.

“Selama ini aku nurut terus sama kamu. Apa yang aku dapet?” kataku pelan tapi tajam. Aku gak mau orang tuaku mendengar pertengkaranku dan Rafa.
“Aku udah kasih semuanya ke kamu. Kamu mau apa lagi?” kata Rafa dengan nada gak kalah tajam.
“Semuanya?” tanyaku sinis, “Emang cuma uang yang kamu punya, Raf. Kamu gak punya kemampuan untuk menghargai aku. Kamu gak punya cinta buat aku. Kamu bahkan gak punya rasa empati sama keluarga aku yang kena musibah. Aku capek hidup sama orang gak punya hati kayak kamu,” kata-kata itu meluncur begitu saja. Wajahku terasa panas karena emosi.

Rafa diam. Lama. Matanya masih menatapku, tapi aku sama sekali gak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. Mungkin dia merasa bersalah. Atau mungkin dia tersinggung dengan semua kata-kataku. But I don’t care. It feels good to tell the truth.

Minta maaf sekarang, Raf! Minta maaf sebelum aku semakin benci sama kamu!

“Di,” Rafa meraih tanganku, ”aku ngerti kamu lagi hamil. Aku ngerti hormon kamu lagi gak stabil. Udah ya, jangan dibesar-besarkan masalah ini.”

Whaaaaattttt???

Jadi dia gak merasa bersalah sama sekali? Jadi dia kira aku semarah ini karena hormon gak stabil? Sinting!

“Rafa! Aku gak pernah marah kamu pulang tengah malem setiap hari. Aku gak pernah marah kita hampir gak pernah ngobrol. Kamu masih mau bilang hormon aku gak stabil? Apa aku bilang, kamu gak bisa menghargai aku. Lihat sekarang, kamu gak bisa menghargai aku yang sabar menghadapi kamu yang gak pernah perhatian sama aku!”
Rafa melepaskan genggaman tangannya dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal. “kamu mau aku gimana? Berenti kerja? Di rumah terus biar bisa nemenin kamu? Aku kerja banting tulang kan buat kamu juga. Buat calon anak kita juga.”

Aku membuang mukaku. Sudah kuduga dia akan menjawab seperti ini. Klise! Cari duit buat keluarga tapi justru gak ada waktu buat keluarga. Pointless!

“Terserah kamu deh, Raf.” Aku beranjak dari tempat tidurku. Sepertinya membicarakan ini semua dengan Rafa sama sekali gak ada gunanya. Dia bahkan gak merasa bersalah sedikitpun. Hatinya sudah mati barangkali.

Rafa menarik tanganku sebelum aku meninggalkan kamar, “Jadi sekarang mau kamu gimana?” tanyanya.
Aku mengangkat bahuku, “aku gak tahu.”

Rafa menarik nafas panjang kemudian menepuk-nepuk bagian kasur yang sebelumnya kududuki, pertanda dia ingin aku duduk lagi di tempat semula. Aku menurutinya. Badanku kubanting ke kasur dengan kesal.

Rafa mengalihkan pandangannya dari wajahku. Matanya kosong, tapi aku tahu otaknya sedang bekerja ekstra keras saat ini. Aku duduk diam menunggunya mengeluarkan kata-kata. Gak ada sedikitpun usahaku untuk berpikir saat ini. I’m tired.

“Audi, please..,” kata-kata Rafa menggantung saat dia akhirnya mengeluarkan suara, entah apa yang ingin diucapkannya. For the first time in my life aku melihat wajah itu memelas. Mengiba.
You hurt me constantly, Raf. Lama-lama numpuk juga. Aku juga punya batas kesabaran,” kataku masih dengan penuh kemarahan.
“Kenapa kamu tumpuk? Kenapa kamu gak bilang?”
“Buat apa? Kalau aku bilang, you’ll hurt me even more!

Rafa menundukkan kepalanya. Wajahnya tampak menyesal.

Do you still love me?” tanyanya dengan suara pelan seperti orang putus asa.
I love you, Raf. I love you so much. I don’t even know why I’m still in love with you. But I don’t wanna live with someone who makes me feel like I’m the most insignificant person in the world. Aku pengen ngerasa dicintai, aku pengen ngerasa dibutuhkan. I need it. I’m desperate for it.

Saying this out loud hurts me even more. Tapi gak ada setitkpun air mata menetes. Hanya ada kemarahan yang menyesakkan dadaku.

Rafa menatapku. Wajahnya tampak terkejut mendengar semua kata-kataku. Aku yakin dia kehabisan kata-kata sekarang.

“Mungkin sekarang aku masih cinta sama kamu, tapi bagaimana cintaku bisa bertahan kalau kamu bahkan gak pernah ada buatku. Kata orang, cinta bisa datang karena terbiasa. Bagiku, cinta bisa hilang karena terbiasa gak ada,” lanjutku. Dadaku terasa semakin sesak.

Rafa tiba-tiba memelukku. Erat. Pelukan yang selama ini aku rindukan.

Kenapa baru sekarang kamu memelukku seperti ini, Raf? Kenapa aku harus semarah ini dulu? Aku sudah terlanjur kecewa, Raf.

I’m sorry for making your life fucked up,” Rafa berbisik di telingaku. Pelukannya semakin erat.

Aku melepasnya pelan. Mata Rafa merah. He’s about to cry. Gosh, It breaks my heart seeing him sad.

Forgiving is easy, forgetting is not. I can’t stand the pain anymore,” kataku lirih.

Rafa tampak shocked mendengar kata-kataku. Jangankan dia, aku sendiri kaget mendengar kata-kataku. Dari mana datangnya kata-kataku barusan? Hatiku?

“Sekarang kamu mau nyerah?” tanya Rafa.
“Buat apa dipertahankan? Do we give each other happiness?”

Rafa gak menjawab pertanyaanku.

You have your own life. I have mine. Maybe we’ll be happy separately.”

Tanpa kuduga, tiba-tiba saja Rafa berlutut di hadapanku, menggenggam tanganku.

Setetes air mata jatuh dari mata kanan Rafa, lalu dia berkata lirih, “Please don’t leave me.

source gambar: gettyimages.com


When Everything’s Worsening

“Jadi lo mau cerai?” pertanyaan Sonya melalui telepon ini membuatku tersentak.
“No!” jawabku cepat,”Gue cuma mau menenangkan diri.”

Sonya diam sejenak. Andaikan dia ada di depanku sekarang, aku pasti tahu apa yang ada dipikirannya.

“Rafa udah hubungin lo?” tanya Sonya kemudian.
“Jutaan kali. Tapi gue gak angkat. Gue masih terlalu emosi buat ngomong sama dia.”
Take your time, dear. Just call me kalo butuh curhat.”
“Ya ini gue lagi ngapain?”
“Eh, gue harus balik kerja nih. Sejak lo resign kerjaan gue jadi numpuk gini, sampe-sampe weekend gini harus kerja. Talk to you later.”
Aku tertawa, “Ok. Thanks, Nya.”

As always, Sonya selalu jadi tempat sampahku setiap kali aku ada masalah dengan Rafa. Bahkan di saat aku sedang di Jogja seperti sekarang ini, tetap saja dia yang aku telepon. Gak peduli berapapun tagihanku di akhir bulan nanti.

Setelah pertengkaran hebat dengan Rafa, aku langsung menuju Jogja untuk melihat kondisi ayahku. Benar kata ibu, kondisi ayah sudah sangat membaik dan sudah bisa pulang ke rumah. Tapi aku sama sekali gak menyesal meninggalkan apartemen dan berada disini sekarang karena melihat langsung kondisi ayahku yang sudah membaik membuatku merasa jauh lebih tenang.

So here I am now, di teras rumah orang tuaku, duduk termenung seorang diri sambil menikmati udara sore Jogja. Pohon-pohon hijau menari-nari tertiup angin. Beberapa anak kecil tampak sedang bermain di depan pagar. Sesekali ada muda mudi yang bersepeda bersebelahan sambil mengobrol. Beberapa motor berlalu lalang dengan santai, sungguh berbeda dengan di Jakarta. Hidup mereka tampak tanpa beban. Begitu damaikah kota ini? Aku hampir lupa.

Aku iri. Aku ingin damai. Tapi bagaimana caranya? Sekarang saja aku gak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Aku benar-benar clueless. Yang pasti, aku gak bisa berlama-lama disini karena orang tuaku pasti curiga. Ya, mereka gak tahu perihal pertengkaranku dan Rafa. Bagiku, lebih baik aku menyimpan sakit hatiku sendiri daripada menceritakannya ke orang tuaku dan membuat mereka merasakan sakit hati yang aku alami.

Anyway, apa kabar ya Rafa di Jakarta? Dia berkali-kali meneleponku pagi tadi. Tentu saja aku gak jawab. Tapi menjelang siang, sama sekali gak ada telepon lagi darinya.

Segitu aja usaha kamu, Raf?

Mungkin dia sudah kembali ke kehidupan normalnya: sibuk bekerja dan melupakan masalahnya denganku. Eh, tapi ini kah weekend? Ah, mungkin dia memang sudah gak peduli.

Oh well, if he does not care, why should I?

Lebih baik aku menikmati waktuku disini sekarang. Bersenang-senang melupakan masalahku dan membuat pikiranku tenang. Demi bayi dalam kandunganku. Demi aku.

Sepertinya keliling kota dengan udara sore yang sejuk seperti ini adalah ide yang menarik. Tapi sama siapa? Kondisi ayah belum memungkinkan untuk aku ajak jalan-jalan. Ibu juga pasti lebih memilih untuk stay di rumah menemani ayah.

Yoga! Nama itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Bukankah Yoga sudah pindah ke kota ini?

But is it ok to call him? Apalagi disaat aku sedang ada masalah dengan suamiku. Lagipula aku yang memintanya pergi dan dia juga yang sudah memenuhi keinginanku. Gengsi dong kalau sekarang aku menghubunginya.

Hmm..

Ah, sudahlah. Persetan dengan segala gengsi. Toh aku butuh distraction sekarang. Jalan-jalan sendirian bisa membuatku depresi dan semakin merasa gak punya suami yang selalu ada buat aku.

“Hallo,” terdengar suara Yoga di seberang sana setelah beberapa detik aku menghubungi nomor HP Yoga.
“Hai. Apa kabar, Yog?” aku mencoba membuat nada sebiasa mungkin.
“Baik. Ada apa, Di?” suara Yoga sedikit tegang. Mungkin dia pikir aku memang gak akan menghubungi dia dan kalau sampai aku menghubunginya, pasti ada sesuatu yang super duper penting.
“Aku di jogja. Care to catch up?
Yoga diam sejenak, “Boleh. Ketemu dimana?”
“Starbucks ambarukmo sekarang?” Ya, sekarang. Ini weekend, kalau Yoga gak pergi, seharusnya dia bisa. Lagipula aku penasaran juga, apa dia mampu menolak ajakanku.
Ok. See you there!

Told you!

Gak butuh waktu lama untukku sampai ke plaza ambarukmo. Hanya 15 menit naik becak dari rumahku. Lima belas menit penuh dengan angin sepoi-sepoi yang hampir gak pernah aku dapatkan di Jakarta. Bonus suara serak tukang becak yang menyanyi sepanjang jalan.

Yoga sudah duduk di sebuah sofa saat aku sampai. Di hadapannya sudah ada segelas caramel frappuccino kesukaannya. Kesukaanku juga. Pesanan wajib kita setiap kali ke starbucks saat masih pacaran dulu. Yeah, some memories never fade away.

Aku segera memesan segelas caramel frappuccino juga lalu menghampirinya.

“Apa kabar?” sapaku sambil mengulurkan tanganku, hendak menyalaminya. Aku tahu aku sudah menanyakan kabarnya di telepon tadi, tapi bukankah menanyakan kabar adalah cara basa-basi paling mudah.
Yoga menyambut uluran tanganku, “Baik. Kamu apa kabar?”
“Baik,” Aku duduk di sofa persis di depan Yoga.
“Dalam rangka apa ke Jogja?” tanya Yoga.
“Ayah sakit, Yog.”
“Ayah sakit apa?” ekspresi muka Yoga menunjukkan kekhawatirannya dan aku tahu dia gak pura-pura.

Jogja ini adalah kota favorit Yoga. Waktu kuliah dulu, hampir setiap libur dia pergi ke kota ini. Aku yang memang pasti mudik saat libur tentu saja selalu jadi tour guide dadakan untuknya. Salah satu tempat yang wajib dituju olehnya adalah rumah orang tuaku. Gak heran Yoga sudah kenal baik dengan keluargaku. Dia bahkan memanggil orang tuaku: ayah dan ibu, sama persis denganku.

“Gula darahnya naik lagi. Tapi sekarang sudah membaik kok.” jawabku.
“Syukurlah,” Yoga mengangguk lalu meminum kopinya.

Aku memandang ke luar jendela saat Yoga menikmati minumannya, mengamati hiruk pikuk yang terjadi. Tiba-tiba aku menyadari betapa aku sangat merindukan kota ini beserta seluruh isinya. Telat banget aku baru sadar sekarang!

“Gimana rasanya tinggal disini?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan.
“Menyenangkan. Bebas macet,” Yoga tersenyum riang.

Aku baru sadar Yoga tambah gemuk. Pipinya sedikit chubby. Wajahnya tampak jauh lebih segar dan bersinar dibanding saat aku terakhir bertemu dengannya. Aku percaya dia benar-benar senang hidup di kota ini.

“Tapi jadinya jarak jauh ya sama si perempuan di restoran itu?” godaku.
Yoga tertawa kencang, “it didn’t work. again.

Whaaattt? Rasanya aku ingin ikut tertawa kencang dengan Yoga. Tahan, Audi. Tahan.

“Oh,” jawabku dengan nada datar seolah gak peduli sedikitpun.
“Suami kamu gak ikut?” tanya Yoga.

That question! Kenapa sih Yoga hobi banget menanyakan tentang suamiku? Benar-benar merusak kesenangan yang baru saja terjadi.

Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Sibuk kerja lagi?” tanya Yoga penasaran.

Aku tersenyum getir berharap Yoga segera menghentikan pertanyaannya tentang Rafa.

“Mau cerita ke aku?”

Aku menatapnya tajam. Maksudnya apa?

“Cerita apa?” tanyaku.
“Sebetulnya ada apa, Di?”

He knew. Dia tahu aku ada masalah dengan suamiku. Darimana dia tahu? Apa wajahku terlihat sangat tidak bahagia? Apa di dahiku ada tulisan “kabur dari suami.” Atau simply karena Yoga begitu mengenalku sejak dulu?

Apapun alasannya, aku gak suka Yoga atau siapapun membahas tentang Rafa sekarang. Aku sedang gak mau mengingatnya sama sekali sekarang. Bolehkan aku merasa tenang sebentar saja?

Sorry. Aku gak bisa cerita,” kataku pelan sambil memaksa sebuah senyuman di wajahku.

Oh crap, kenapa mataku panas sekarang. Don’t cry, Audi. Not now! Gak di tempat umum seperti ini. Gak di depan Yoga.

“Yaudah, ga usah cerita kalo belum bisa,” Yoga meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Tapi kamu perlu tau, if he doesn’t treat you right, someone else will. i will.

This isn’t appropriate. Aku menarik pelan tanganku. Dan aku berharap Yoga menarik kata-katanya barusan.

You don’t understand, Yog. Marriage is like rollercoaster. Ada ups and downs. Sekarang lagi down aja,” kataku.
“Tapi rollercoaster kan juga bisa berenti”

Pardon? Tell me that I heard it wrong!

“Maksud kamu apa?”

Maksud kamu apa, Yog? Aku menghentikan pernikahanku? Aku bercerai dengan Rafa?

Don’t be scared, Audi. The future is scary but you can’t just run to the past just because you’re scared.
“Kamu ngomong apa sih, Yog?”

This is not good. This is definitely not good.

Forget it.
Yes, forget it! Aku mau pulang!” Aku beranjak dari tempat dudukku dan secepatnya meninggalkan starbucks.

Seperti keputusanku untuk bertemu Yoga adalah sebuah kesalahan. Bukannya tenang, aku malah semakin pusing. Somehow aku merasa dia sedang mempengaruhiku untuk meninggalkan Rafa.

Aku tahu aku sudah gak mampu meng-handle perlakuan buruk Rafa. Tapi di sisi lain, aku gak bisa bohong, I still love him. Aku memang belum tahu mau aku bawa kemana pernikahan ini. Tapi biarkan aku memikirkannya sendiri. Aku gak mau ada pihak lain yang mempengaruhiku.

“Di, Maaf,” Yoga menarik tanganku setelah berhasil mengejarku. Beberapa mata memandang kami dengan antusias seolah bersiap mendapatkan drama gratisan di depan mata.
Aku menarik tanganku, “Udahlah, Yog.” Kataku sambil pergi menjauh.
“Di, jangan gitu dong. Malu ini diliatin orang-orang. Tolong dengar aku dulu. ” Yoga terus mengejarku memancing semakin banyak mata memandang kami.
Aku menghentikan langkahku, “Apa lagi, Yog?”
“Maaf, di. Gak seharusnya aku ngomong kayak tadi.”

Aku menarik nafasku, menenangkan diri. Sedetik, dua detik. Tenang, Audi. Be mature!

“Yaudah lupain aja.” kataku akhirnya.
“I’m sorry, Di. You broke my heart dan aku gak tahu bagaimana cara nyembuhinnya selain dengan balikan lagi sama kamu.”

Deg.

Aku menatap Yoga tajam dan lama, gak menyangka Yoga akan mengelurkan kata-kata seperti itu. Dia kan tahu aku sudah menikah.

“Aku mau pulang, Yog.” kataku akhirnya.

Isi kepalaku seperti benang kusut. Belum selesai masalah dengan Rafa, sekarang tambah lagi tingkah bodoh Yoga barusan. I wanna go home know. Pulang ke rumah orang tuaku yang nyaman, mandi, lalu tidur melupakan semua masalah ini.

I wish I were 15. Dimaana masalah seperti ini pasti justru akan jadi bahan tertawa seru-seruan dengan teman-teman ABG-ku, bukan membuatku nyaris gila seperti sekarang.

“Aku anter pulang ya. Naik motor gapapa?” Yoga menggandeng tanganku tanpa menunggu jawabanku dan entah kenapa rasanya aku bahkan sudah gak punya cukup energi untuk menolak. Yeah, I know I should. I just can’t. Aku hanya manurut seperti bocah penakut yang takut hilang di keramaian.

Langit jingga jogja dan angin yang menggoda wajahku dicampur wangi parfum Yoga gak mampu membuang kekalutanku. What should I do now? What should I do? Pertanyaan ini terus terngiang di kepalaku.

Seseorang dengan koper kecil sedang membuka pagar rumah orang tuaku saat aku sampai di depan rumah. Dia menengok ke arahku ketika Yoga mematikan mesin motornya.

Rafa. He’s here!

source gambar: gettyimages.com


Walking Away

“Di, I have a good news!” teriak Rafa saat baru saja membuka pintu apartemen.

Aku menatapnya heran. Langit di luar masih jingga dan Rafa tiba-tiba sudah ada di depan pintu sambil berteriak kegirangan. Biasanya dia selalu pulang dengan muka kecapekan dan yang pasti tengah malam. Is this just a dream?

I got a promotion, Di!” kini dia mendekatiku lalu memelukku erat.
You got a promotion so you can be home this early?” tanyaku. Fokusku masih di kenapa dia bisa pulang secepat ini.
Rafa melepaskan pelukkannya, “aku mau jemput kamu. Malem ini aku mau traktir temen-temen kantorku. Kamu ikut ya?”

Aku tersenyum lalu mengangguk. Ternyata dia masih inget toh punya istri di apartemen. Setelah selama ini dia selalu meninggalkanku sendirian hingga larut malam, aku pikir dia lupa kalau dia punya istri yang menunggunya setiap malam.

“Selamat ya, Raf,” aku mencium pipinya.

I’m smiling but honestly there’s some part of me yang gak bisa ikut senang dengan apa yang baru saja didapat oleh Rafa. Karena permintaan Rafa aku gak bisa merasakan senangnya mendapatkan promosi beberapa waktu lalu. Not that I regret my decision, tapi melihat Rafa mendapatkan promosi kok rasanya gak adil ya. Kenapa sepertinya hanya aku yang harus berkorban demi calon anak kita?

Ah, ya tentu saja karena aku yang hamil. Duh!

“Kamu siap-siap ya. Aku mau mandi dulu,” kata Rafa masih dengan wajah sumringah.

Gak butuh waktu lama bagiku untuk bersiap-siap, aku bahkan sudah rapi saat Rafa belum selesai mandi. Baju hamilku sedikit sekali jadi aku gak perlu berlama-lama untuk memilih. Yes, you read it right, baju hamilku sedikit karena hasrat belanjaku terjun bebas sejak hamil. Sejak hamilpun aku gak suka dandan heboh, cukup bedak dan lipgloss. Mungkin bawaan dari si jabang bayi yang -sepertinya sih- laki-laki.

Eh, sepertinya ada yang kurang hari ini. Apa ya?

Oh, ibuku di Jogja sama sekali belum meneleponku. Meskipun kita beda kota, ibuku memang hanya sesekali meneleponku. Mungkin karena dia juga masih sibuk bekerja. Tapi semenjak aku hamil, ibuku jadi teramat sangat sering meneleponku dan menanyakan kabarku. Maklum saja, ini calon cucu pertamanya. Aku curiga kalau dia tinggal di Jakarta, mungkin dia akan datang ke apatemenku setiap hari.

Baiklah, aku saja yang telepon. Daripada bengong menunggu Rafa selesai mandi.

“Hallo,” terdengar suara ibuku di seberang sana.
“Bu, aku punya kabar gembira.”
Ada sunyi sejenak sebelum akhirnya ibuku menjawab, “Ada kabar apa, nak?”
“Rafa dapet promosi,” kataku excited.
“Selamat ya.”

Sudah? Gak ada nada senang dalam ucapan selamat itu.

There’s something wrong. Pasti ada yang gak beres. Aku mengenal persis ibuku. Dia selalu ikut senang bila aku menyampaikan berita baik, sekecil apapun itu. Ada apa ya?

“Ibu lagi apa?” tanyaku.
“Ibu di rumah sakit, Di. Ayah masuk rumah sakit.”

Hah? Told you!

Aku mendadak panik, “kenapa bu? Kok gak ngabarin aku!”
“Kadar gulanya naik. Ibu gak mau bikin kamu khawatir. Kamu lagi hamil, kamu harus selalu tenang.”

Aduh, ibuku ini kebiasaan deh gak mau cerita kepadaku kalau ada hal buruk terjadi. Sepertinya aku masih dianggap anak kecil yang gak bisa diajak bicara dan menerima berita dengan dewasa.

“Bu, aku ke Jogja malem ini.”
“Gak usah, Di. Sudah ditangani dokter kok. Besok mungkin sudah boleh pulang.”
“Gak, bu. Aku ke Jogja malem ini.”

Aku harus ke Jogja malam ini juga. Aku akan lebih gak tenang kalau belum lihat langsung kondisi ayahku.

Dan kenapa kadar gula ayah sampai naik lagi? Pasti ayah mulai gak jaga makanan lagi. Kalau sudah begini, biasanya akulah satu-satunya orang yang bisa membuat ayah nurut dan mengikuti anjuran dokter. Bukan ibu, bukan dokter. Mungkin karena aku putri tunggalnya, jadi semua omonganku selalu didengar baik-baik oleh ayah. Yup, aku harus kesana dan memastikan ayah gak akan bandel lagi.

“Raf, ayah masuk rumah sakit,” kataku ketika Rafa keluar dari kamar mandi.
“Hah? Kenapa?”
“Gula darahnya naik lagi. Kita ke Jogja malem ini ya.”

Harusnya gak masalah untuk Rafa ikut ke jogja denganku, besok, kan, weekend.

“Malam ini? Tapi aku sudah janji sama teman-temanku. Mereka semua sudah nunggu di restoran. Besok pagi-pagi aja ya kita ke Jogja,” kata Rafa sambil duduk di sampingku.
Gak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Rafa, aku menatapnya tajam, “Rafa, ayahku sakit dan kamu masih lebih mementingkan makan sama temen-temen kamu!”

Yang sakit memang ayahku, bukan ayahnya. Tapi bukankah ayahku artinya ayahnya juga?

“Di, tolong ngerti dong,” Rafa meraih tanganku dan mencoba membujukku.
“Kamu yang tolong ngerti, Raf. Kamu harusnya ngerti mana yang harus diprioritaskan!” nada suaraku mulai tinggi.

Suamiku ini sebetulnya punya hati gak sih?

“Di, temenku sibuk semua dan sekarang mereka meluangkan waktunya untuk aku. Mereka sudah sampai. Gak enak dong kalau aku gak dateng padahal aku sudah janji mau traktir.”

I’m shocked, I can’t speak. Aku terlalu kecewa. Detik ini, untuk pertama kalinya, aku menyesal telah menikahi pria heartless di hadapanku ini. Perlahan air mata menetes di pipiku.

“Nangis lagi. Yaudah deh, kamu ke Jogja aja sendiri. Aku nyusul besok,” nada suara Rafa yang mulai terdengar kesal.
“Aku hamil dan kamu nyuruh aku pergi sendiri demi makan sama temen-temen kamu? Dimana tanggung jawab kamu!” teriakku.

Aku sudah gak mampu mengontrol emosiku. Habis sudah kesabaranku menghadapi Rafa. Aku gak bisa mengalah terus. Gak di saat ayahku sakit. My family is my everything dan aku gak akan membiarkan keegoisan Rafa menang kali ini.

Seolah gak mau kalah, Rafa berteriak lebih keras, “Kamu nanya tanggung jawab aku? Aku udah kasih kamu apartemen senyaman ini. Aku kasih kamu uang tiap bulan tanpa kamu perlu repot2 kerja. Sekarang kamu tanya tanggung jawab aku?”

What the hell! Dia pikir aku hanya butuh tempat tinggal dan uang? Aku butuh dia! Butuh perhatiannya, butuh kasih sayangnya, butuh cintanya. Kalau tempat tinggal dan uang, sih, aku juga bisa cari sendiri!

Rafa berdiri dengan kesal lalu meninju dinding di sampingnya. Baru kali ini aku lihat dia semarah ini. Mungkin karena selama ini aku gak pernah berteriak kepadanya, gak pernah menentangnya.

“Kamu yang harusnya mikir, dimana tanggung jawab kamu. Kamu cuma perlu masak di rumah aja gak bisa-bisa,” lanjut Rafa.

You better kill me now, Raf! Lebih baik aku mati daripada harus mendengar kata-kata menyakitkan seperti itu keluar dari mulut suamiku yang aku cintai.

“Sana packing. Capek aku liat kamu nangis terus,” Rafa masih terus berteriak di mukaku.

That’s it, Raf. I’m sick of feeling that i’m not good enough. Enough is enough. I’m leaving. I don’t need this.


Unappreciated

Siapa yang bilang jadi ibu rumah tangga itu mudah? Bawa sini, biar aku jitak! Aku kasih tahu ya, ternyata jadi ibu rumah tangga itu sangat melelahkan. Sampai-sampai rasanya aku butuh dipijat setiap malam. Ok, kayaknya aku mulai hiperbola.

Selama ini aku hanya menyapu apartemen di pagi hari sebelum berangkat ke kantor dan sepertinya semua sudah bersih. Paling-paling hanya seminggu sekali beres-beres yang agak mengeluarkan tenaga. Tapi sekarang, saat aku hampir 24 jam di dalam apartment, aku jadi menyadari semua kekotoran yang selama ini kasat mata bagiku. Debu-debu yang menempel di meja, buku-buku yang sering pindah ke bawah tempat tidur, kulkas yang sudah harus dibersihkan, dan lain lain, dan lain lain, dan lain lain. Setiap hari ada saja yang harus dibereskan.

Huh, kalau begini caranya, sepertinya jadi ibu rumah tangga bisa membuatku lebih lelah dan lebih stress daripada kerja kantoran.

Ok. Enough. Aku mengeluh terlalu banyak ya?

Gak semuanya buruk kok. Aku memaksakan diriku untuk terus produktif meskipun sudah gak bekerja. Bagaimana? Aku belajar masak! Akhirnya!

Ya, sekarang jadi punya waktu untuk belajar masak. Sebetulnya ini bukan karena aku mau, tapi karena aku harus. Pertama karena aku hamil. Ini membuatku gak boleh makan sembarangan. Kedua karena kata orang hati laki-laki bisa disentuh dengan memberinya makanan enak. Dengan kata lain, aku berharap Rafa bisa makin cinta. Cheesy, huh? I don’t care.

Kalau ditanya sudah bisa masak apa, dengan bangga aku jawab beberapa makanan selain telur ceplok. Meskipun sebagian besar eksperimen memasakku gagal total, tapi aku tetap yakin ini adalah proses. Mungkin satu hari nanti aku akan lebih jago masak daripada Farah Quinn dan punya acara masak seperti dia. Aku kan gak kalah cantik. Ya, kan?

Kalau kebetulan Rafa pulang sebelum aku tidur, biasanya dia kupaksa menghabiskan semuanya. Dan dia mau. Gak cuma itu, dia bahkan meyakinkanku kalau selalu ada kemajuan dalam proses belajar masakku. Aku tahu dia hanya ingin membuatku senang. Tapi, ya, dia berhasil, aku senang dan merasa usahaku tidak sia-sia.

Sebetulnya proses pemaksaan ke Rafa untuk makan masakanku ini jarang sekali terjadi karena Rafa tetap pulang malam meskipun dia tahu istrinya yang sedang hamil ini sendirian di apartemen sepanjang hari. Entah apa yang bisa membuatnya mengurangi kebiasaan lemburnya itu.

“Hai, sayang,” sapa Rafa ketika memasuki kamar.
Aku melirik jam dinding, tepat jam 12 malam dan dia baru pulang kantor, “Hai.”
“Kok belum tidur?”
“Nunggu kamu,” jawabku singkat.
“Kan aku udah bilang gak perlu nunggu aku. Nanti kamu kurang istirahat,” Rafa membelai lembut rambutku.
“Kalau aku gak pernah nunggu kamu, kita gak akan pernah bisa ngobrol, Raf,” aku berusaha membuat nada bicaraku sedatar mungkin. Sedikit saja nada bicaraku lebih tinggi, pasti akan memancing kemarahan Rafa.
Rafa menarik nafas dalam, “Di, aku gak ada waktu untuk ribut sekarang. Ada Dimas di luar, masih ada kerjaan yang harus dilanjutin.”

Dimas adalah teman sekantor Rafa yang juga teman dekat Rafa sejak kuliah. Seperti aku punya Sonya. Rafa punya Dimas. Ok, the last sentence sounds weird ya?

“Jadi kamu masih mau lanjut kerja?” tanyaku.

Ini sudah jam 12 malam dan suamiku ini masih harus lanjut kerja. Dia dapat energi dari mana sih?

“Iya, ada file yang ketinggalan di apartment. Daripada bolak balik jadi lanjutin kerja disini.”

Rafa keluar kamar. Aku mengikutinya keluar dan melemparkan sebuah senyuman ke Dimas yang sudah duduk di meja makan. Laptopnya sudah terbuka. No wonder mereka bisa sahabatan, sama-sama gila kerja. Aku curiga mereka kalau ngobrol harus lewat instant messenger biar bisa sambil kerja.

“Hai, Dim,” sapaku.
“Hai, Di. Makin sehat ya!” kata Dimas sambil tersenyum jahil. Masih bisa ya dia jahil di tengah kesibukannya?
“Gendut maksud lo?” tanyaku sambil melotot.

Dimas tertawa terbahak-bahak.

“Gue hamil. Kalo gak gendut malah ngeri,” kataku sewot.

Dimas masih lanjut tertawa. Rafa sibuk menyiapkan laptopnya seakan gak mendengar sedikitpun percakapanku dengan Dimas. Huh, harusnya dia, kan, membela istrinya ini!

“Gue gorengin risol ya. Kebetulan tadi siang nyoba bikin,” kataku ke Dimas.
“Gak usah, di. Kamu istirahat aja, udah malem.” kata Rafa.

Oh, dia dengar toh.

“Cuma sebentar kok, Raf. Tinggal digoreng aja,” aku tersenyum sambil menuju dapur.

Akhirnya ada orang lain selain Rafa yang akan mencicipi masakanku. Aww, I am, somehow, so excited. Minggu lalu aku sempat membuat makanan yang sama untuk Rafa dan dia bilang enak. Kalau sekarang Dimas bilang enak juga, Rafa pasti ikut bangga.

“Gue gak pernah tahu Audi bisa masak. Gue pikir cewe kayak gitu cuma bisa ngabisin duit lo,” sayup-sayup terdengar suara Dimas. Begini nasip tinggal di apartemen, suara dari satu ruangan akan terdengar jelas ke ruangan lain. Rafa hanya tertawa mendengar kata-kata Dimas.

Mau aku pites si Dimas ini. Sembarangan saja dia mengira aku hanya bisa menghabiskan uang suamiku!

“Pas banget nih gue lagi laper. Gak sia-sia deh gue kerja disini kalo istri lo jago masak,” lanjut Dimas.
“Jangan berharap banyak,” kata Rafa.

Deg. Apa maksudnya?

“Kalo depan dia sih gue bilang masakannya enak dan jago masak,” suara Rafa agak pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.
“Padahal?”
“Padahal abis itu gue ke bawah, nyari makanan enak buat meng-counter rasa masakkan istri gue,” kata Rafa sambil tertawa pelan.

Mataku tiba-tiba panas. Ya, aku sadar betul aku masih jauh dari jago masak. Aku tahu persis Rafa makan masakanku hanya untuk membuatku senang. Tapi apa perlu menghina dan menertawakanku seperti itu di depan temannya?

“Kurang ajar lo!” Dimas tertawa kencang.
“Eh, yang penting kan gue bilang enak depan dia biar dia seneng dan tetep usaha. Itu cuma little funny thing in marriage kok. Makanya lo buruan nikah biar ngerti,” kata Rafa sambil tertawa.

Rafa, kamu sadar gak sih, yang kamu hina dan tertawakan itu istri kamu? Calon ibu dari anak kamu?

Sedikitpun aku gak merasa ini lucu, Raf. Dimana lucunya? Yang aku rasakan sekarang hanyalah kamu yang gak menghargai aku. Gak menghargai usahaku belajar masak dan gak menghargaiku dengan mengatakan hal buruk tentangku ke orang lain.

Aku melirik risol yang kubuat sore tadi, hanya tinggal goreng. Tiba-tiba kepercayaan diriku jatuh. Aku gak siap mendengar lebih banyak celaan.

Praaank!!

“Kenapa, di?” Terdengar langkah kaki Rafa menghampiriku ke dapur.

Aku segera jongkok membersihkan risol dan pecahan piring yang berceceran di lantai. Ya, aku sengaja menyonggolnya hingga jatuh. Buat apa aku sajikan? Aku gak mau Rafa dan Dimas semakin menertawakanku.

“Kenapa, di?” Rafa mengulangi pertanyaannya lagi ketika sampai di pintu dapur.
“Kesenggol. Sorry ya, gak jadi ada risol,” aku masih membungkuk, gak menatap Rafa sama sekali. Rafa gak boleh lihat aku menangis.
“Ya udah, gapapa kok. Hati-hati ya,” Rafa kemudian meninggalkanku.

I feel like shit! Satu-satunya hal yang membuatku masih merasa produktif setelah resign dari pekerjaanku dicela oleh suamiku sendiri. Tiba-tiba saja aku merasa sangat tidak berguna. Huff, being sad when you’re pregnant is depressing. Hormon di dalam tubuh seolah bekerja sama membuatku merasa inget mati.

*

“Gitu ya, aku dibilang gak jago masak,” kataku ketika Rafa sudah siap tidur. Jam 3 pagi dan akhirnya pekerjaannya selesai juga.
Rafa menatapku, “apa sih kamu?”
“Aku denger lho tadi,” aku memaksa bibirku tersenyum di hadapan Rafa, seolah aku gak masalah dengan kata-katanya.
“Ya emang gak jago,” Rafa mengganti posisi tidurnya membelakangiku.

Aku diam. Sakit.

I’m done, Raf. Aku gak akan lagi masak untuk kamu. Buang waktuku, buang waktu kamu.

Sekuat tenaga aku menahan air mataku mengalir. Tapi aku gagal. Air mataku mengalir deras diikuti isakan tangisku.

Rafa bangun dari tidurnya, “kamu tuh ya, gak bisa ngertiin banget sih suami capek, masih aja dibebanin hal kayak gini.” Rafa mengambil bantal lalu meninggalkan kamar.

Sabar, Audi. Suami kamu sedang lelah. It’s 3 am dan dia baru selesai kerja. He didn’t mean it.

Aku terus menguatku diriku sambil mencoba berpikir positif. Aku gak boleh sedih demi bayi dalam kandunganku. Aku mengintip keluar pintu. Rafa sudah tertidur pulas di sofa depan TV.

Aku beranjak dari tempat tidur menuju sofa tempat Rafa tidur. Melihat wajah itu, I really want to slap him. Tapi apa yang aku lakukan sekarang? Aku justru menyelimutinya supaya dia gak kedinginan. Mungkin memang seperti ini yang namanya cinta. Aku jadi begitu bodoh.

Rafa, If I treated you the way you treat me, I promise you wouldn’t stick around the way I do.

source gambar: gettyimages.com


Where Decisions Take Me

Aku gak pernah menyangka hari ini akan tiba secepat ini. Hari dimana aku dan hampir semua rekan kerjaku berkumpul di sebuah restoran dalam rangka farewell-ku. Bukan farewell orang lain, tapi farewell-ku.

Sudah menjadi tradisi kantorku untuk dinner bareng di hari terakhir pegawai yang akan resign. Sekarang giliranku. Aku mengajak makan teman-temanku makan di restoran jepang sebelah kantor Yoga, tempat dimana aku memberitahu Yoga kalau aku telah menikah.

Ada beberapa pertimbangan kenapa aku mengajak teman-temanku kesini. Pertama, makanan disini super enak, setidaknya aku bisa membuat perut teman-temanku bahagia di hari terakhirku bekerja. Kedua, tempatnya yang nyaman dan tidak terlalu ramai membuatku berharap aku bisa mengobrol lebih intim dengan teman-temanku ini untuk terakhir kalinya.

Selain itu, I, somehow, miss this place. Ini adalah restoran dimana aku sering meeting dengan Yoga saat dia masih rajin membuatku kerja rodi. You know, saat sesuatu sudah menjadi kebiasaan, rasanya aneh saat gak dijalankan lagi, semenyebalkan apapun hal itu. Aku bahkan curiga deep down inside aku merindukan meeting dengan Yoga di tempat ini.

Anyway..

If you’re wondering, ya, again and again aku memutuskan untuk memenuhi permintaan Rafa. Sinting! Kurang cinta apa aku ke suamiku itu? Well, I hope this is a right decision. Semoga setelah ini kehamilanku lancar dan bayi dalam kandunganku lahir sehat. Jangan sampai pengorbananku ini sia-sia.

To be honest, I’m not happy. Really. Aku masih gak kebayang hari-hariku setelah ini. Tapi aku sudah mengambil keputusan dan sekarang aku gak punya pilihan lain selain mencoba menjalaninya.

Dulu aku mungkin bukan murid terbaik di sekolah, bukan mahasiswi paling cemerlang di kampus, but I know I was great. Aku lulus dengan nilai gemilang yang akhirnya membawaku ke sebuah perusahaan market research paling besar di dunia. Di kantor pun karierku menanjak lebih cepat dari normal. Tapi sekarang semua prestasiku itu seolah gak ada gunanya karena aku hanya akan ada di rumah, mengurus rumah dan tetek bengeknya. Lalu buat apa dulu aku susah payah belajar?

Masih ada rasa gak rela menghadapi ini. Sesungguhnya aku belum ikhlas.

Yang membuatku semakin gak senang adalah orang-orang selalu mengerutkan dahi saat mendengar alasanku resign. Wajah mereka seolah mengatakan meninggalkan pekerjaan demi menjadi ibu rumah tangga adalah dosa besar. Aku merasa dipandang rendah and it hurts. Aku merasa gak mendapatkan dukungan dari siapapun, kecuali Rafa tentunya.

Bukankah menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan mulia? Please say yes atau aku akan sangat menyesal!

Ah, mungkin aku yang terlalu sensitif. Atau mungkin mereka hanya iri karena setelah ini aku bisa leha-leha sepanjang hari tanpa dikejar deadline apapun.

“Setelah ini kita bakal jarang shopping bareng dong?” kata Sonya yang sedari tadi duduk di sebelahku. Matanya masih bengkak. Dia menangis heboh saat aku menyampaikan farewell speech-ku tadi.
“Gue cuma resign, bukan hilang dari muka bumi!”
“Kalo laki lo sampe ngelarang lo kerja, artinya dia bakal ngelarang lo keluar rumah juga dong.”
“Ya enggak lah. Gue cakar dia kalau sampe ngelarang gue ke mall,” kataku sambil tertawa menutupi hatiku yang sebetulnya kalut. “Pokoknya anytime you wanna go shopping, just call me yah,” lanjutku.
Masih dengan mata bengkaknya, Sonya tersenyum, “Pasti!”

Aku sebetulnya gak yakin dengan kata-kaktaku pada Sonya barusan. Rafa is a control freak dan apa yang ada di kepalanya benar-benar gak bisa ditebak. Mungkin Sonya benar, bisa saja setelah melarangku bekerja, Rafa akan melarangku jalan-jalan juga dengan alasan yang sama. Argh, membayangkannya saja sudah membuatku lemas. Kalau benar kejadian, aku bisa mati bosan.

Gawd, I need a distraction now. Pikiranku hanya diisi oleh hal-hal negatif. I hate this! Aku membuang pandanganku ke luar, memperhatikan orang yang lalu lalang di depan restoran, berharap pemandangan di luar bisa sedikit mencuci otakku.

Pandanganku berhenti saat seorang lelaki memasuki restoran ini dengan seorang seorang wanita cantik di sebelahnya. Laki-laki itu mirip sekali dengan Yoga.

Hmm.. Apa kabar ya Yoga? Dia yang dulu begitu intens mengganggu hidupku sekarang benar-benar menghilang seperti ditelan bumi. Honestly, rasanya seperti ada yang hilang dari hidupku.

Eh, tunggu, itu memang Yoga. Mungkin benar secretly aku merindukan meeting dengan Yoga di tempat ini. Bukankah ada yang bilang kalau alam semesta selalu membantu kita mewujudkan keinginan kita?

Well, sebetulnya gak ada yang aneh kalau Yoga tiba-tiba muncul di restoran ini. Jelas-jelas kantornya di gedung sebelah dan dia sendiri yang dulu bilang kalau dia suka makan di restoran ini. Harusnya aku sadar probabilitas bertemu yoga di tempat ini teramat sangat besar.

Tapi yang mengganggu pikiranku sekarang bukanlah bertemu kembali dengan Yoga melainkan sebuah pertanyaan besar: who’s that girl? Melihat Yoga datang kesini dengan seorang wanita lain lah yang membuatku kaget. Jangan-jangan dia memang sering membawa wanita-wanitanya ke restoran ini dan aku hanya salah satunya.

Duh! Aku negatif banget sih! Mungkin itu hanya rekan kerjanya yang sama-sama pengen makan disini malam ini. Lagipula memang kenapa kalau Yoga sering membawa wanita-wanitanya ke tempat ini? Gak ada yang salah kan, Audi!

Tapi tetap saja otakku segera memerintahkan mataku untuk melakukan pemeriksaan cepat ke sosok wanita itu. Dari atas sampai bawah. Dari sepatu hingga potongan rambutnya. Dari pakaiannya sampai bahasa tubuhnya.

Cantik sekali. Bahkan lebih cantik saat aku mengamatinya lebih detail. Wajahnya ayu sekali dengan make up super tipis. Badannya tinggi langsing. Pakaiannya sederhana, hanya sweater zara persis seperti punyaku dan jeans. Sungguh effortless beautiful.

But there must be something wrong dibalik penampilannya yang sempurna itu. Nobody’s perfect, right?

Wait! Apa aku terdengar seperti orang jealous?

No, I’m not!

Aku cuma penasaran, siapa wanita itu.

Pandanganku gak mau berpaling sedetikpun, bahkan ketika mereka sudah duduk di meja yang masih dalam jarak pandangku. Aku mau lihat setiap detail yang terjadi. Mereka tertawa, lalu tertawa lagi. Lagi, lagi, dan lagi. Apa sih yang lucu? Mereka terlihat bahagia. Bahagia seperti pasangan baru. Atau memang iya?

Yoga tampak beranjak dari tempat duduknya setelah memesan makanan, menuju toilet.

Reflek aku beranjak dari tempat dudukku, menuju toilet. Langkahku pelan berharap saat aku tiba di depan toilet, Yoga keluar. Dan semua terlihat seperti kebetulan. Yeah, I’m so freak sometimes.

“Audi,” wajah Yoga tampak kaget saat keluar dari toilet.

Berhasil!

“Eh, Yoga,” aku pura-pura memasang wajah terkejut, “Sama siapa?”

He? Kenapa aku langsung tembak gini? Bukankah aku seharusnya menanyakan kabarnya dulu.

“Temen,” jawabnya singkat.
“Ah, temen apa temen?”

Duh, apa-apaan sih aku! Norak banget deh. Gak bisa ya mancing dengan lebih classy?

“Temen sekantor,” kata Yoga.

Listen, Audi, listen! Benar, kan, hanya teman sekantor!

“Tapi sekarang lagi deket. Gak ada salahnya dicoba!” lanjut Yoga sambil tersenyum. Ada kilatan excited di matanya.

Nyeeessss!

Entah kenapa ada rasa gak enak saat mendengar kata-kata Yoga. Nope, bukan rasa sakit. Tapi gak enak. Gak suka. Maybe it’s just my ego. Gak rela sesuatu yg sebelumnya milikku diambil orang lain.

“Oh!” aku memaksakan bibirku untuk tersenyum.

That information is enough. I don’t wanna know more. I don’t wanna hate someone I don’t even know.

Anyway, thanks ya complimentary email-nya,” kataku mengalihkan topik pembicaraan.
“Itu Bu Sinta yang kirim. Aku cuma cerita tentang servis kamu yang ok.”

Aku tersenyum sambil mengangguk.

“Ngomong-ngomong kamu mau pindah kemana?”
“Sebuah perusahaan baru berkembang di jogja. Lusa aku berangkat.”
“Jogja?”

Yoga mengangguk mantap seperti gak ada keraguan meninggalkan Jakarta Raya ini. We all know, semua orang berbondong-bondong pindah ke ibukota, tapi Yoga memilih untuk meninggalkannya.

“Kamu yakin?” tanyaku lagi.
“Yakin. Pertama, aku bisa lebih mengeskplorasi diriku karena ini perusahaan baru. Kedua, semakin aku jauh dari kamu semakin kecil kemungkinan aku ganggu hidup kamu,” kata yoga sambil terkekeh, membuat kesan kalau kalimat terakhirnya hanya bercanda.

It didn’t sound funny for me. I don’t know why.

“Di, kamu lupa ya, living there was our dream. Tapi sepertinya aku harus jalanin sendiri,” kata Yoga dengan nada tenang seolah dia hanya bilang ‘I love sushi’.

Aku tercekat.

Aku ingat, Yoga. Aku ingat mimpi kita itu.

Jogja is my hometown. I love that city soooo much! Aku lahir dan besar disana. Orang tua-ku juga masih tinggal disana sampai detik ini.

Sejak awal aku meninggalkan Jogja untuk menimba ilmu di Jakarta, aku sudah bertekad akan kembali lagi ke kota itu. Mengabdikan hidupku untuk kota kelahiranku and spend the rest of my life there.

Aku masih ingat betul saat pertama kali aku menyampaikan hal ini ke Yoga dulu, saat kami masih berpacaran. Dia menyambut dengan gembira. Aku gak tahu kenapa dan bagaimana Yoga yang selama ini besar di Jakarta bisa sangat mencintai Jogja. Bahkan kecintaannya sepertinya lebih besar dariku. Dia hanya pernah bilang kalau Jakarta itu melelahkan, dia ingin ritme hidup yang lebih tenang dan lebih sederhana.

Tapi setelah pisah dengan Yoga dan menikah dengan Rafa, perlahan aku mulai melupakan keinginanku itu. Mungkin karena aku yakin Rafa gak akan mau pindah kesana. Aku bahkan gak pernah punya keberanian untuk menceritakan keingananku ini pada Rafa. Entah kenapa. Mungkin karena aku takut mendapat penolakan. Mungkin karena aku tahu persis respon yang akan aku dapat dari Rafa akan berbanding terbalik dengan respon Yoga dulu.

“Aku balik ke meja dulu ya, Di. Wish me luck, moga-moga yang ini cocok,” Yoga tersenyum lebar. And from that smile, I know he likes that girl. Yoga berlalu meninggalkanku menuju wanita cantik itu yang menyambutnya dengan senyuman.

Melihat punggung itu menjauh, kenapa tiba-tiba aku merasa begitu kehilangan? I know I should not feel this. I should not.

What a day! Kehilangan pekerjaan dan kehilangan seorang Yoga secara bersamaan. Dua-duanya keputusanku sendiri, but why do I feel so sad right now? I don’t get it, somebody please explain!

Source gambar: gettyimages.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers