Breaking News

Hi readers,

I have a good news for you! The Marriage Rollercoaster akan segera diterbitkan dalam bentuk novel beneran lho! Woohoo..😀

Untuk kalian yang sudah baca sampe tamat novel blog ini, jangan khawatir gak dapet gregetnya saat baca ulang. Karenaaa..

  1. Di setiap chapter ada banyak cerita-cerita tambahan. Jadi kalian bisa lebih dalam menyelami kehidupan pernikahan Audi dan Rafa. Oh, juga Yoga.
  2. Ada chapter-chapter baru lagi pastinya. Akan ada lebih banyak sejarah masa lalu yang terkuak. Tentang Yoga dan Audi. Tentang Rafa dan Audi. Kisah-kisah yang dulu masih jadi misteri, hihi..
  3. Yang paling bikin penasaran, endingnya beda dong! You’ll be surprised deh pokoknya! Ok, sedikit bocoran yaa.. gak ada yang mati kok! Nah, sekarang, silakan menebak-nebak deh endingnya bakal gimana. Haha..

Soooo wait for it yaaah! ;D


Shopping Is The Best Aspirin

Aku tersenyum melihat bayangan diriku di kaca fitting room. Cantik. Haha. No, maksudku dress Marc Jacobs ini terlihat cantik di tubuhku, seperti memang dibuat khusus untukku.

“Audi, gimana?” Sonya, sahabatku, mengintip dari balik tirai.
“Bagus gak?” tanyaku.
Sonya mengamatiku lekat-lekat, “Bagus sih! But don’t you think it’s too expensive?
“Ini investasi!” jawabku.
“Investasi nenek moyang lo!” wajah Sonya menghilang dari balik tirai. Aku hanya terkekeh.

Fokusku kembali pada bayanganku di kaca. I really love this dress. Tapi benar kata Sonya, this is too expensive, harganya hampir sepertiga gajiku dan ini masih awal bulan. Pasti masih akan ada puluhan sesi belanja setelah hari ini. Argh! Kapan sih aku dipromosi sebagai manager di kantorku? Aku butuh dana lebih untuk belanja!

Ah sudahlah, buat apa aku kerja kalau aku gak boleh menikmati hasil jerih payahku sendiri. Valid? Yes. Lagipula kalau sampai gajiku bulan ini habis, kan masih ada jatah belanja dari Rafa, suamiku tercinta. Makin valid? Yes yes.


Aku melepas calon dress baruku dan segera menuju kasir. Hello cute dress, you’ll have a new home!


“Mau belanja apa lagi, nyonya?” Sonya melirik kantong belanjaan di tanganku ketika aku meninggalkan toko.
Enough for today. Sisain buat besok-besok,” jawabku sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan gigiku yang rapi.
“Rafa gak pernah protes ya lihat belanjaan lo yang harganya selangit gini?”
“Pertama, dia gak tau harga belanjaan gue. Kedua, kalo gue tambah kece, kan, dia juga yang bangga, jadi dia gak boleh protes dong!”

Sonya hanya menggelengkan kepalanya. Aku kadang heran. Sonya ini adalah sahabatku sejak kuliah, artinya kita sudah hampir tujuh tahun sahabatan. Tapi kenapa dia masih belum kebal juga ya melihat kebiasaanku belanja.

“Lagipula ini salah satu cara gue nyenengin diri sendiri, Sonya. Lo tau sendiri suami gue sibuknya kayak apa. Kalau gue gak bisa cari pelarian buat seneng-seneng, gue bisa stress!” lanjutku.
Sonya melirikku sekilas, “cup cup, jangan curhat gitu dong. Cari makan yuk!” Well, I guess dia menemukan kesedihan di mataku. Kesedihan seorang istri yang kesepian.Sudahlah, aku gak mau bahas ini sekarang. I’m in the middle of shopping, kegiatan paling menyenangkan sedunia!
“Sushi Tei?” ceplosku saat tiba-tiba menemukan lambang restoran favoritku ada tepat di depan mata.
“Yuk!”

Gak susah untuk menemukan meja kosong di Sushi Tei saat hari kerja seperti ini. Mungkin semua orang memilih untuk langsung pulang dan having dinner with their lovely family setelah lelah bekerja seharian. Sedangkan aku? Suamiku pasti masih lembur di kantor, jadi lebih baik aku menghabiskan waktuku dengan sahabatku daripada aku harus makan sendirian di rumah.
Tuh kan, curhat lagi. Stop!!!

“Itu cowo kayak Yoga deh,” kata Sonya dengan pandangan lurus ke meja belakangku tepat setelah kita duduk.
“Yoga siapa?”
“Yoga Indrajati! Mantan lo jaman kuliah dulu! Dia sama cewe!”

Reflek pandangaku menuju ke meja di belakangku. Benar itu Yoga, mantanku sebelum menikah dengan Rafa. Ini pertama kalinya aku melihatnya setelah putus sekitar tiga tahun lalu. Dia ambil S2 di Perancis saat kita putus dan sejak saat itu pula aku gak pernah dengar kabarnya. Ternyata dia sudah kembali ke Jakarta, toh?

It’s his mom, Sonya!” kataku setelah buru-buru kembali menghadap Sonya sebelum Yoga ataupun ibunya melihatku.
“Oya? Masih muda gitu. Cantik banget,” kata Sonya.
Aku hanya mengangguk.
He’s coming!” kata Sonya. Matanya melotot kepadaku.
What?”  Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang.
“Kayaknya mau pulang. Dia mendekat.” Sonya segera mengalihkan pandangannya ke seputar meja, pura-pura tak melihat Yoga.

Oh no! I don’t wanna meet him. Not now! No, I don’t wanna meet him forever!

Ok, aku memang putus baik-baik dengannya tiga tahun lalu. Alasan? Cliche, aku bilang aku gak bisa pacaran jarak jauh. Alasan sebenarnya? Aku bertemu Rafa dan jatuh cinta. Dan sekarang, melihat wajah itu, tiba-tiba saja aku merasa bersalah.

Bagaimana kalau dia ternyata tahu alasanku yang sebenarnya? Bagaimana kalau dia marah-marah kepadaku sekarang setelah semua berlalu tiga tahun?.

Ah, gak mungkin dia tahu.

But still, I don’t wanna meet him.

Semoga dia gak lihat aku! Semoga dia gak lihat aku! Aku ingin ditelan bumi sekarang jugaaa!

Source gambar: gettyimages.com


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 56 other followers