Shopping Is The Best Aspirin

Aku tersenyum melihat bayangan diriku di kaca fitting room. Cantik. Haha. No, maksudku dress Marc Jacobs ini terlihat cantik di tubuhku, seperti memang dibuat khusus untukku.

“Audi, gimana?” Sonya, sahabatku, mengintip dari balik tirai.
“Bagus gak?” tanyaku.
Sonya mengamatiku lekat-lekat, “Bagus sih! But don’t you think it’s too expensive?
“Ini investasi!” jawabku.
“Investasi nenek moyang lo!” wajah Sonya menghilang dari balik tirai. Aku hanya terkekeh.

Fokusku kembali pada bayanganku di kaca. I really love this dress. Tapi benar kata Sonya, this is too expensive, harganya hampir sepertiga gajiku dan ini masih awal bulan. Pasti masih akan ada puluhan sesi belanja setelah hari ini. Argh! Kapan sih aku dipromosi sebagai manager di kantorku? Aku butuh dana lebih untuk belanja!

Ah sudahlah, buat apa aku kerja kalau aku gak boleh menikmati hasil jerih payahku sendiri. Valid? Yes. Lagipula kalau sampai gajiku bulan ini habis, kan masih ada jatah belanja dari Rafa, suamiku tercinta. Makin valid? Yes yes.


Aku melepas calon dress baruku dan segera menuju kasir. Hello cute dress, you’ll have a new home!


“Mau belanja apa lagi, nyonya?” Sonya melirik kantong belanjaan di tanganku ketika aku meninggalkan toko.
Enough for today. Sisain buat besok-besok,” jawabku sambil tersenyum lebar, memamerkan deretan gigiku yang rapi.
“Rafa gak pernah protes ya lihat belanjaan lo yang harganya selangit gini?”
“Pertama, dia gak tau harga belanjaan gue. Kedua, kalo gue tambah kece, kan, dia juga yang bangga, jadi dia gak boleh protes dong!”

Sonya hanya menggelengkan kepalanya. Aku kadang heran. Sonya ini adalah sahabatku sejak kuliah, artinya kita sudah hampir tujuh tahun sahabatan. Tapi kenapa dia masih belum kebal juga ya melihat kebiasaanku belanja.

“Lagipula ini salah satu cara gue nyenengin diri sendiri, Sonya. Lo tau sendiri suami gue sibuknya kayak apa. Kalau gue gak bisa cari pelarian buat seneng-seneng, gue bisa stress!” lanjutku.
Sonya melirikku sekilas, “cup cup, jangan curhat gitu dong. Cari makan yuk!” Well, I guess dia menemukan kesedihan di mataku. Kesedihan seorang istri yang kesepian.Sudahlah, aku gak mau bahas ini sekarang. I’m in the middle of shopping, kegiatan paling menyenangkan sedunia!
“Sushi Tei?” ceplosku saat tiba-tiba menemukan lambang restoran favoritku ada tepat di depan mata.
“Yuk!”

Gak susah untuk menemukan meja kosong di Sushi Tei saat hari kerja seperti ini. Mungkin semua orang memilih untuk langsung pulang dan having dinner with their lovely family setelah lelah bekerja seharian. Sedangkan aku? Suamiku pasti masih lembur di kantor, jadi lebih baik aku menghabiskan waktuku dengan sahabatku daripada aku harus makan sendirian di rumah.
Tuh kan, curhat lagi. Stop!!!

“Itu cowo kayak Yoga deh,” kata Sonya dengan pandangan lurus ke meja belakangku tepat setelah kita duduk.
“Yoga siapa?”
“Yoga Indrajati! Mantan lo jaman kuliah dulu! Dia sama cewe!”

Reflek pandangaku menuju ke meja di belakangku. Benar itu Yoga, mantanku sebelum menikah dengan Rafa. Ini pertama kalinya aku melihatnya setelah putus sekitar tiga tahun lalu. Dia ambil S2 di Perancis saat kita putus dan sejak saat itu pula aku gak pernah dengar kabarnya. Ternyata dia sudah kembali ke Jakarta, toh?

It’s his mom, Sonya!” kataku setelah buru-buru kembali menghadap Sonya sebelum Yoga ataupun ibunya melihatku.
“Oya? Masih muda gitu. Cantik banget,” kata Sonya.
Aku hanya mengangguk.
He’s coming!” kata Sonya. Matanya melotot kepadaku.
What?”  Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang.
“Kayaknya mau pulang. Dia mendekat.” Sonya segera mengalihkan pandangannya ke seputar meja, pura-pura tak melihat Yoga.

Oh no! I don’t wanna meet him. Not now! No, I don’t wanna meet him forever!

Ok, aku memang putus baik-baik dengannya tiga tahun lalu. Alasan? Cliche, aku bilang aku gak bisa pacaran jarak jauh. Alasan sebenarnya? Aku bertemu Rafa dan jatuh cinta. Dan sekarang, melihat wajah itu, tiba-tiba saja aku merasa bersalah.

Bagaimana kalau dia ternyata tahu alasanku yang sebenarnya? Bagaimana kalau dia marah-marah kepadaku sekarang setelah semua berlalu tiga tahun?.

Ah, gak mungkin dia tahu.

But still, I don’t wanna meet him.

Semoga dia gak lihat aku! Semoga dia gak lihat aku! Aku ingin ditelan bumi sekarang jugaaa!

Source gambar: gettyimages.com

Advertisements

9 Comments on “Shopping Is The Best Aspirin”

  1. yunie says:

    cerita menarik…
    seperti kisah nyata kehidupan d kota2 besar yang nota bene suami isti sama2 sibuk… dan wanita memang gemar shoping hehehehe 😀

  2. ndutyke says:

    Hahaha, sip deh.
    Suamiku juga lumayan sibuk, kerja bisa sampe 24 jam gak berhenti meski kadang lembur dr rumah.

    Dan akyu pun juga penggila belanja, tp online shopping saja lah, hehehe….

    Makasih sudah mampir ke blogku dan meninggalkan jejak.
    I love your writing style!

  3. jeung vita says:

    waaahhh ternyata cerbung ya 😮
    bikin penasaran iiihhhhh

  4. Wie Blog The World says:

    mau ikutan baca,,,

  5. Ismail Agung says:

    bagus… bahasanya enak dan nyante.. seperti menikmati teh hangat (apa hubungannya coba?).

    Like this.

  6. What would you say if Yoga sees you?
    Awh … well I haven’t read enough ….

  7. devyhzvy says:

    weww… bisa nyandu neh bacanya
    but i like it…. perlu cerita kyk gini, secara saya juga baru menikah ^^

  8. Evan says:

    Baca dari pertama dulu nih 🙂

  9. mylitleusagi says:

    kunjugan pertama mbak,,
    lanjut ke series berikutnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s